Senin, 08 Desember 2014

RSA



Sedikit Mengenai RSA
RSA di bidang kriptografi adalah sebuah algoritma pada enkripsi public key. RSA merupakan algoritma pertama yang cocok untuk digital signature seperti halnya ekripsi, dan salah satu yang paling maju dalam bidang kriptografi public key. RSA masih digunakan secara luas dalam protokol electronic commerce, dan dipercaya dalam mengamnkan dengan menggunakan kunci yang cukup panjang.

Proses enkripsi pesan

Misalkan Bob ingin mengirim pesan m ke Alice. Bob mengubah m menjadi angka n < N, menggunakan protokol yang sebelumnya telah disepakati dan dikenal sebagai padding scheme.

Maka Bob memiliki n dan mengetahui N dan e, yang telah diumumkan oleh Alice. Bob kemudian menghitung ciphertext c yang terkait pada n:

    c = n^e \mod{N}

Perhitungan tersebut dapat diselesaikan dengan cepat menggunakan metode exponentiation by squaring. Bob kemudian mengirimkan c kepada Alice.

Proses dekripsi pesan
Alice menerima c dari Bob, dan mengetahui private key yang digunakan oleh Alice sendiri. Alice kemudian memulihkan n dari c dengan langkah-langkah berikut:

    n = c^d \mod{N}

Perhitungan di atas akan menghasilkan n, dengan begitu Alice dapat mengembalikan pesan semula m. Prosedur dekripsi bekerja karena

    c^d \equiv (n^e)^d \equiv n^{ed} \pmod{N}.

Kemudian, dikarenakan ed ≡ 1 (mod p-1) dan ed ≡ 1 (mod q-1), hasil dari Fermat's little theorem.

    n^{ed} \equiv n \pmod{p}

dan

    n^{ed} \equiv n \pmod{q} 

Dikarenakan p dan q merupakan bilangan prima yang berbeda, mengaplikasikan Chinese remainder theorem akan menghasilkan dua macam kongruen

    n^{ed} \equiv n \pmod{pq}.

serta

    c^d \equiv n \pmod{N}.

Berikut adalah projek pengerjaan aplikasi yang di buat untuk proses RSA :
screenshoot
Pertama : 
Ketikan karakter "kalimat" yang akan di Enkripsi cth: 'hallo STT-PLN'
lalu klik tombol Private Key, maka akan muncul nilai dari 'hallo STT-PLN'


Kedua :
Masukkan Nilai '11547' untuk di proses Enkripsi
Klik tombol Enkripsi, lalu akan muncul foam input 'masukkan public key' yaitu '11547'
 Klik 'OK'


Maka akan muncul Chippertexts


Klik tombol Public Key maka akan muncul nilai dari chippertexts yang kita dapatkan tadi '8823'

 Klik tombol Dekripsi, lalu input nilai '8823' kedalam foam


Klik Tombol OK maka akan muncul kembali kalimat 'hallo STT-PLN'


Ini adalah Proses pengerjaan RSAnya, dari Enkripsi sampai ke Dekripsi

Selasa, 23 September 2014

Warriors of the Net

24SEP
Saya akan menjelaskan tentang inti dari film warrior of the net. Film Warriors of the Net bercerita tentang perjalanan paket data, mulai dari komputer asal, menuju web server dengan melewati router dan proxy, dan kembali lagi ke komputer asal dengan animasi 3 dimensinya. Film ini mengenalkan istilah-istilah transfer paket networking antara lain :
1. TCP Paket
2. ICMP Ping Packet
3. UDP Packet
4. Router
5. Ping of Death (POD)
6. Router Switch

Poin-poin yang diceritakan oleh film Warrior of the net:
  1. Ketika mengklik suatu link, kita mengirimkan suatu informasi. Informasi dimasukkan ke sebuah mailroom milik IP, kemudian dikemas, diberi label, diberi alamat pengirim, alamat penerima dan alamat proxy server.
  2. Paket-paket tersebut akan menuju LAN, yang menghubungkan jaringan physically dengan struktur tertentu. Kemudian router akan membaca dan mengarahkan paket-paket tersebut sampai ke alamat tujuan.
  3. Network interface mengambil paket-paket yang ada, dan mengirimnya ke proxy yang bertugas menjaga kelancaran lalu-lintas internet serta mengatur keamanan. Paket yang alamat tujuannya disetujui oleh proxy akan diteruskan, yang tidak akan dihancurkan.
  4. Paket-paket yang disetujui akan dilewatkan ke firewall yang berfungsi mencegah potensi bahaya masuk dari internet serta untuk mencegah informasi yang bersifat super secret diinterupsi atau dimanipulasi oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Router kemudian akan mengatur paket-paket yang melewati firewall menuju bandwidth yang lebih kecil lagi.
  5. Kemudian paket kembali ke jalan, menuju suatu jaringan, seperti jarring laba-laba. Jaringan ini terhbung secara luas dan mengglobal. Namun, tidak menutup kemungkinan menemui bahaya, yaitu Ping or Death packet. Paket tersebut adalah paket yang lain dari biasanya dan itdak diinginkan.
  6. Paket-paket kemudian dikirimkan melalui satelit, telepon, wireless, ataupun kabel.
  7. paket kemudian ditempatkan di suatu interface yang ditempatkan di web server yang dapat dihubungkan ke peralatan seperti web cam hingga komputer.
  8. Paket yang diterima kemudian dibuka, informasi diambil dan dikirim ke web server. Hingga paket masuk ke interface dan siap memberikan pesan yang anda pesan tau anda inginkan.
Inilah yang bisa saya sampaikan pada penjelasan tentang inti dari film “Warriors of the Net”. Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca. Trimakasih.

Senin, 04 Januari 2010

asal mula screamo

Awal mulanya

Sebenarnya susah juga untuk mendefinisikan musik emo itu sendiri seperti apa. Ironis memang, padahal kita gampang banget menstereotipkan seseorang sebagai emo kids tapi di sisi lain susah banget buat kita untuk mendefinisikan musik emo itu sendiri.

Anyway, basicly kata emo didapat dari kata “Emotional”, dan musik ini awalnya merupakan salah satu anak-an dari musik punk. (pasti lo tau lah). Umumnya sih, dituangkan ke dalam lirik yang emosional cenderung cengeng, melodius, puitis dan dibalut dengan teriakan-teriakan luapan emosi, terutama emosi yang tak terbendung setelah band metal anda selalu gagal lolos di audisi acara-acara sunatan massal. (hehehe, tae ah!)

Genre musik ini tuh mulai berkembang di akhir tahun 80an dan awal-awal 90an, sebagai sesuatu “label” yang awalnya diberikan kepada band punk di Washington DC saat itu, yang notabenenya memiliki permainan gitar lebih keras dari kebanyakan band punk. Dan alhasil genre musik ini dikenal sebagai musik “DC Punk”.

Pada tahun 1984 sejarah mencatat band hardcore-punk Hüsker Dü, sebuah band yang memberikan influence yang kuat pada band DC Punk lainnya kayak Faith, Rites of Spring dan Embrace. Merilis album keempat yang bertitel “Zen Arcade”. Album inilah yang menjadi sebuah album legenda saat itu.

Untuk informasi Embrace sendiri adalah band yang dibentuk oleh Ian MacKaye, yang sebelumnya menjadi vokalis band kenamaan Minor Threat.

Sementara itu di sisi lain, walaupun Rites of Spring berhasil menghasilkan sebuah full album dan satu EP, band ini tidaklah bertahan lebih dari 2 tahun. Dan sebagai seorang rockstar, lead vocal Guy Picciotta merasa terpanggil untuk membentuk sebuah band baru lagi bernama Fugazi, yang nantinya band ini menjadi salah satu pionir di perkembangan musik emo.

Kekompleksan musik plus vokal yang intens dan juga penulisan lirik yang introseptif menghasilkan evolusi Emo dari tahun 1982 - 1992 dengan band–band seperti INDIAN SUMMER, MOSS ICON, POLICY OF THREE, STILL LIFE dan NAVIO FORGE.

Dinamika ‘kekerasan’ sering terdengar dari grup–grup tersebut yang akhirnya melahirkan band-band pioner baru Emo di evolusi berikutnya, yakni SAETIA dan THURSDAY di tahun 1997. Secara vokal, band tersebut memiliki style Emocore, dengan ciri terlalu sering memunculkan suara tangisan atau malah teriak penuh penyesalan.


Perubahannya

Walaupun influence dari Fugazi dan DC sound sangat substansial, sepanjang kita tahu, musik emo sekarang tidak semata-mata terbentuk hanya dari hardcore scene. Karena dengan seiringnya bergesernya jaman, para musisi emo lainnya memunculkan musik emo dengan gaya yang lebih “lembek”.

Anehnya lagi, emo malah menjadi musik yang lebih lambat seiring dengan munculnya band seperti Sunny Day Real Estate (Seattle) dan Mineral (Texas). Mereka mencampurkan komposisi musik yang lebih lambat, lembut, gaya yang emosional, menggabungkan sound emocore dari Rites of Spring dan inovasi musik Post Hardcore ala Fugazi.

Range musik ini pun makin luas seiring dengan suksesnya band-band macam At The Drive In, Jimmy Eat World, The Get Up Kids dan Thursday. Media mainstream pun makin tertarik untuk membahasnya dan hal ini pulalah yang membuat musik emo semakin pop (baca:populer).

The Used, Finch, Story of the Year, Funeral for a friend, sampai band emo akustik macam Dashboard Confessional dan Bright Eyes yang santer terdengar saat ini jelas menjadi suatu contoh yang signifikan dimana musik emo menjadi lebih pop.


“Hey They’re Not Emo, dude!”

Lebih gilanya lagi, saat pionir-pionir lama band Emo angkat bicara. Mereka menyatakan bahwa kebanyakan band-band yang terlanjur dan mencap dirinya sebagai band emo tidak mempunyai ciri khas sebagai band emo. Nah lho! Tapi yang jelas sih walaupun band-band tersebut dibilang bukan sebagai bagian musik emo oleh para pencetusnya. Tapi tetep aja mereka disebut sebagai band emo oleh para fans, terutama oleh media-media mainstream yang ada.

Yang jelas fenomena genre Emo ini akan terus berkembang seiring terus berjalannya tingkatan depresi yang ada. Sebab pada dasarnya semua musik yang ada selalu mengalami perkembangan, dan sebisa mungkin menghindari stagnansi. Apalagi karena para artisnya selalu ingin mendobrak batasan-batasan yang ada, they always striving to be different, striving to be original. Dan tidak ada seorang true musician yang ingin “ put in a box” mereka selalu ingin “out of the box”.

Itulah sebabnya banyak juga band-band yang menolak terjebak di dalam stereotip “emo”, mereka menolak untuk di”label-kan”sebagai sebuah band emo, contohnya band-band seperti Jimmy Eat World dan At the Drive In (bubar).

sejarah punk



Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Punk

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.

Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Gaya hidup dan Ideologi

Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).
Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).

Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n� roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.


Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata "ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.

Punk dan Anarkisme

Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n� roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.

Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.

Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).

Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-punk. *bandung melodiccore

Senin, 28 Desember 2009

profile we the kings


We The Kings:

Travis Clark -- Vocals, Guitar
Hunter Thomsen-- Guitar, Backing Vocals
Drew Thomsen-- Bass
Danny Duncan -- Drums

Greetings from Bradenton.

Whereas most kids fight against their hometown and think the grass is greener outside of where they grew up, the four guys in We The Kings embrace their upbringing, showing all sorts of love for Bradenton, Florida on their self-titled debut disc.

Ranging in ages from 19-22, the alternative pop-rock band is named after King Middle School where all four band members attended -- in fact, two are brothers, three of the guys went to elementary school together and some played on the same sports teams when younger. Songs such as "
Skyway Avenue," "August Is Over" and "This Is Our Town" speak directly to Bradenton locales and the culture of the resort community. Guitarist Hunter Thomsen even proudly sports a tattoo of the Sunshine State on his chest.

"We really just wanted to reflect on how much our hometown means to us, how it sculpted us and, even beyond the band, how long we've all been together," says singer/guitarist/songwriter Travis Clark.

Bradenton is a coastal resort town, with an influx of tourists every summer. That means the guys have grown up constantly starting new friendships and relationships that change with the season. The sentiment rings strongly within the catchy hooks of "August Is Over." "It's about Fall starting and people leaving to go back to school or home. We make friends and meet girls who we hang out with over the summer and then realize that you have to quickly say goodbye because they have to go home," says Clark.

As the guys brought their blend of Jimmy Eat World energy with Third Eye Blind pop sensibilities on tour, they would run through their phone list of Bradenton visitors and catch up with old friends. They reached as far as the West Coast with bands such as Say Anything, The Hush Sound and Anberlin and joined in on the Bamboozle 2007 festival.
-more-



While still unsigned, We The Kings' songs took top spots on Purevolume charts. In 2007, the band inked a deal with S-Curve Records and went into the studio to create their debut, produced by S*A*M and Sluggo (Gym Class Heroes, Cobra Starship) and mixed by Lou Giordano (Plain White T's, Taking Back Sunday) and Tom Lord-Alge (Fall Out Boy, Blink-182). We The Kings is managed by Bret Disend/Ozone Entertainment (Boys Like Girls, Metro Station).
Time in the studio gelled the band's already energetic and tight sound. Instantly addictive tracks such as "Whoa," "Check Yes Juliet" and "Stay Young" brim with youthful vibrancy and enthusiasm, clocking in at short and sweet three-minute bursts.

"We wanted every track on the record to be the strongest it could be. And for us, that means you get in, make your point and get out," says Clark. "We also really wanted the record to represent the kids that we are. We're uplifting, we love to have a good time and we love music."

But that doesn't mean the songs are lacking substance. "
Skyway Avenue" uses one of Bradenton's most famous sights -- the Sunshine Skyway Bridge -- as the foundation for taking the biggest leap of all. "It's a metaphor about taking the ultimate chance for a relationship or a friendship," says Clark. "If you jump, I'll jump with you. It means it will be forever."

The album's closer is the only ballad on the debut. A sweet piano and Clark's vocals swell into a glorious anthem that serves as the ultimate love letter to We The Kings' home with "This Is Our Town." In it, Clark refers to Bradenton by its historic name Bradentown. "The town has always been there for us, so I wanted to really give it the love it deserved," says Clark. "It's such an emotional song for us, we felt that it was big enough to be the only ballad on the record."

It's a sweet cap to the guys' journey so far, which is really just beginning. With their history and pride in their pockets, Travis, Hunter, Drew and Danny are more ready than ever to bring a little bit of Bradenton good times to the rest of the county.

"This is a fun record, but we also wanted to make it as timeless as we could. It's hard to think in 20 or 30 years what songs people are going to remember from this time. We aimed to make those kinds of songs," says Clark. "I guess in 20 years we'll know if we did it."

profile bob marley


Bob Marley Basic Facts:
Bob Marley was born Robert Nesta Marley on Feb. 6, 1945 in Saint Ann,
Jamaica. His father, Norval Sinclair Marley, was a white Englishman and his mother, Cedelia Booker, was a black Jamaican. Bob Marley died of cancer in Miami, FL on May 11, 1981. Marley had 12 children, four by his wife Rita, and was a devout Rastafarian.
Bob Marley's Early Life:
Bob Marley's father died when he was 10 years old, and his mother moved with him to Kingston's Trenchtown neighborhood after his death. As a young teen, he befriended Bunny Wailer, and they learned to play music together. At 14, Marley dropped out of school to learn the
welding trade, and spent his spare time jamming with Bunny Wailer and ska musician Joe Higgs.
Bob Marley's Early Recordings and the Beginnings of the Wailers:
Bob Marley recorded his first two singles in 1962, but neither garnered much interest at the time. In 1963, he began a ska band with Bunny Wailer and
Peter Tosh that was originally called "The Teenagers". Later it became "The Wailing Rudeboys", then "The Wailing Wailers", and finally just "The Wailers". Their early Studio One hits, which were recorded in the popular rocksteady style, included "Simmer Down" (1964) and "Soul Rebel" (1965), both penned by Marley.
Bob Marley Converts To Rastafarianism:
Marley married Rita Anderson in 1966, and spent a few months living in Delaware with his mother. When Marley returned to Jamaica, he began practicing the
Rastafarian faith, and began growing his signature dreadlocks.
Worldwide Success:
The Wailers' 1974 album Burnin' contained "I Shot The Sheriff" and "Get Up, Stand Up", both of which gathered cult followings in both the US and Europe. The same year, however, the Wailers broke up to pursue solo careers. At this point, Marley had made the full transition from
ska and rocksteady to reggae.
Bob Marley & the Wailers:
Bob Marley continued to tour and record as "Bob Marley & the Wailers", though he was the only original Wailer in the group. In 1975, "No Woman, No Cry" became Bob Marley's true breakthrough hit song, and his subsequent album Rastaman Vibration became a Billboard Top 10 Album.
Bob Marley's Political and Religious Activism:
Bob Marley spent much of the late 1970s trying to promote peace and cultural understanding within Jamaica, despite being shot (along with his wife and manager, who also survived) before a peace concert. He also acted as a willing cultural ambassador for the Jamaican people and the Rastafarian religion. He holds nearly godlike status among many Jamaicans and Rastafarians worldwide.
Bob Marley's Death:
In 1977, Bob Marley found a wound on his foot, which he believed to be a soccer injury, but was later discovered to be malignant melanoma. Doctors recommended an amputation of his toe, but he refused for religious reasons. The cancer eventually spread. When he finally decided to get medical help (in 1980), the cancer had become terminal. He wanted to die in Jamaica, but could not withstand the flight home, and died in Miami.Learn more about Bob Marley's death.
Bob Marley's Legacy:
Bob Marley is revered the world over, both as the defining figure of
Jamaican music and as a spiritual leader. His wife Rita carries on his work as she sees fit, and his sons Damian "Jr. Gong", Julian, Ziggy, Stephen, Ky-Mani, as well as his daughters, Cedelia and Sharon, carry on his musical legacy (the other siblings do not play music professionally).
Honors and Awards Bestowed Upon Bob Marley:
Among the awards and honors that have been given to Bob Marley are a spot in the Rock and Roll Hall of Fame and a
Grammy Lifetime Achievement Award. His songs and albums have also won numerous honors, such as Time Magazine's Album of the Century (for Exodus) and BBC's Song of the Millenium for "One Love".